Penguatan Lab TBC di Bali

Beranda Berita Penguatan Lab TBC di Bali

Dalam mendukung Program Penanggulangan TBC di Bali diperlukan laboratorium yang kompeten sehingga hasil pemeriksaan laboratorium bermutu. Untuk menjamin mutu pelayanan lab TBC diperlukan penguatan jejaring. Dilaksanakan melalui penerapan regulasi, standar, pedoman dan fasilitas. Serta peningkatan koordinasi di tingkat pusat dan daerah, peningkatan SDM, kerja sama dengan organisasi profesi laboratorium dan LSM. Untuk mendukung Lab TBC menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan maka Diskes Bali melaksanakan penguatan jejaring laboratorium TBC Tingkat Provinsi (17 Oktober 2019).

Penguatan yang diikuti oleh seluruh pemegang program TBC di Kab/kota beserta lintas sektor dilaksanakan di Hotel Neo Denpasar. Kadiskes Bali dr Ketut Suarjaya, MPPM membuka penguatan tersebut. Kadiskes Bali berharap dengan diadakan kegiatan ini dapat dihasilkan Lab TBC yang dilengkapi dengan fasilitas yang berkualitas di Bali. Penguatan Lab TBC termasuk dalam program prioritas peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan sesuai Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Untuk itu perlu disiapkan secara matang seluruh komponen pendukung Lab TBC tersebut. Lab TBC yang berkualitas akan sangat membantu dalam upaya pencegahan dan pengendalian TBC di Bali, kata beliau.

Laboratorium TBC terdiri dari laboratorium mikroskopis, biakan dan uji kepekaan dan TCM. Pengelolaan jejaring laboratorium penting untuk menjamin kualitas pemeriksaan laboratorium TBC di wilayahnya. Berdasarkan temuan kegiatan Joint External TBC Monitoring Mission (JEMM). Kegiatan pemantapan mutu eksternal mikroskopis TBC berupa uji silang sampai saat ini belum dilaksanakan secara rutin di seluruh fasyankes mikroskopis. Sehingga direkomendasikan untuk penguatan jejaring laboratorium TBC agar kualitas laboratorium mikroskopis terpantau mutunya.

Sistem transportasi contoh uji dahak juga sampai saat ini belum berjalan dengan optimal. Mengingat mekanisme transport spesimen menjadi salah satu faktor penting untuk dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium. Oleh sebab itu perlu dilakukan evaluasi berjenjang untuk memastikan bahwa semua pasien TB RO dilakukan pemeriksaan laboratorium TBC sesuai dengan jadwal dan hasil pemeriksaan dilaporkan tepat waktu.

TBC Tantangan Global dan RAN TB

Tuberkulosis masih menjadi tantangan secara global dan merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Prevalensi TBC tahun 2013-2014 angka prevalensi TBC di Indonesia adalah 660 per 100.000 penduduk. Hal ini menjadikan Indonesia peringkat kedua negara dengan beban TBC yang tertinggi di dunia.

Berbagai tantangan yang menjadi perhatian program nasional penanggulangan TBC adalah tingkat penemuan kasus yang belum optimal. TBC Resisten Obat (TBC RO), kolaborasi TBC/HIV, TBC Diabetes, TBC pada anak dan masyarakat rentan lainnya. Berbagai terobosan telah dilakukan program nasional penanggulangan TBC diantaranya penggunaan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk diagnosis TBC dan TBC RO. Dengan alat TCM tersebut diagnosis TBC dan resistensi terhadap rifampisin, dapat dilakukan hanya dalam waktu 2 jam.

Berdasarkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Laboratorium TB 2016 – 2020, direncanakan pemenuhan kebutuhan alat TCM sejumlah 2.023 sampai tahun 2020. Kebutuhan TCM dihitung berdasarkan kondisi epidemiologis penyakit. Sesuai beban perkiraan pasien TBC di Indonesia, pertimbangan administratif dimana minimal 1 (satu) alat di masing-masing kabupaten/kota. Serta pertimbangan geografis di masing-masing wilayah. Penempatan alat TCM dapat diperuntukkan bagi faskes dan faskes rujukan TBC RO, RS atau Puskesmas dengan pasien TBC dan HIV yang tinggi, serta laboratorium rujukan TBC.

Pengelolaan Alat TCM dan Distribusi

Pengelolaan alat TCM berupa kesiapan calon laboratorium TCM, perencanaan workshop, pengumpulan dan analisis data. Supervisi serta monitoring & evaluasi terus dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi termasuk untuk menilai kesiapan calon laboratorium TCM. Dengan penilaian kesiapan secara mandiri oleh calon Laboratorium TCM dan Dinas Kesehatan Kab/Kota sehingga diharapkan provinsi mampu mangelola alat TCM yang ada di wilayahnya.

Sampai Mei 2019, telah terdistribusi sebanyak 860 alat TCM di 834 fasilitas layanan kesehatan di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Laporan penggunaan alat TCM dilakukan setiap bulan dengan laporan bulanan dan secara online menggunakan eTB manager. Belum semua laboratorium melaporkan secara rutin ke Program TBC. Berdasarkan analisis data yang dilaporkan menunjukkan penggunaan kartrid secara nasional tahun 2017 sebesar22% dengan tingkat partisipasi fasyankes yang melapor sebanyak 80%. Oleh sebab itu, dibutuhkan evaluasi terkait analisis data penggunaan TCM berdasarkan pencatatan dan pelaporan yang telah dilakukan.