Penanganan Covid-19 di Era New Normal di Bali

Beranda Berita Penanganan Covid-19 di Era New Normal di Bali
dr. Suarjaya : Layanan Harus Tetap Siaga

“Kita harus menyiapkan segala sesuatunya. Karena dibukanya akses, berarti dalam bidang Kesehatan harus siap dengan berbagai konsekuensinya. Bisa diartikan Kita harus siap dengan situasi New Normal ini”, ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya, MPPM saat membuka pertemuan Konsolidasi penanganan kasus Covid-19 secara Virtual yang dipusatkan di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Rabu, 5 Agustus 2020.

Acara ini dipandu oleh Kepala Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Iwan Darmawan, dan dihadiri oleh semua Direktur Rumah Sakit yang menangani Covid-19, Dinas Kesehatan 9 Kabupaten/Kota, Ketua Organisas Profesi dan Asosiasi yang ada di Bali, seperti Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), IDI serta instansi terkait.

Lebih lanjut, dr. Ketut Suarjaya mengatakan, untuk memaksimalkan peran di fase New Normal ini, semua Tim Pelayanan Covid-19 di Bali harus siap siaga. “Setelah ada Surat Edaran terkait revisi 5 penanganan Covid-19, maka mau tidak mau, semua RS baik milik pemerintah maupun swasta wajib menyiapkan layanan Covid 19. Mulai dari IGD, OK (Ruang Operasi) dan VK (Ruang Bersalin). Ini sangat penting, untuk mengantisipasi membludaknya kembali pasien Covid-19”, katanya.

Dokter Suarjaya juga menyampaikan, kondisi Covid-19 di Bali saat ini baik dari sisi penanganan, pelayanan serta ketersediaan kamar RS cukup baik.” Dari data 5 Agustus 2020, kesembuhan pasien mencapai 86,22 %. Dimana kasus tersisa 455 orang. Dimana 215 orang masih dirawat di RS dengan gejala sedang. Dan sisanya ada di beberapa tempat isolasi mandiri. Mereka yang berada pada isolasi mandiri sebagian besar tanpa gejala”, katanya.

Sesuai dengan Edaran Penanganan Covid-19 Revisi 5, maka sistem layanan, papar dr Suarjaya dibagi menjadi 2, yaitu untuk pasien kasus berat, akan dilayani di RSUP Sanglah. Kasus sedang dilayani di RS Rujukan lainnya. Sedangkan kasus ringan diharapkan melaksanakan isolasi mandiri. “Pemilahan ini hendaknya diperhatikan oleh semua jajaran RS yang ada di Bali saat ini”, tegas dr. Suarjaya.

Setelah memaparkan konsep pelayanan Covid 19 terbaru (revisi 5 – red), acara diskusi pun dibuka dr Iwan Darmawan. Dimana pertama kalinya, direktur SDM dan Pelayanan RS Sanglah, Dr.dr Surya Negara, SPOG(K) MARS menyambut baik Edaran yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali. “Kami menyambut baik Edaran tersebut. Dan saat ini Sanglah memang menjadi pusat rujukan layanan Covid-19. Sampai saat ini kami masih menerima pasien penuh. Dari 109 kamar, sudah terisi 107”, kataya.

Dokter Surya Negara juga akan melakukan koordinasi terkait pemilahan itu. ”Kami akan lakukan pemilahan untuk penanganan pasien berat. Karena sampai saat ini, kami juga masih menerima beberapa pasien sedang. Sehingga ke depannya akan kita koordinasikan dengan RS Rujukan lainnya. Mohon Dinas Kesehatan Provinsi Bali membantu masalah administrasinya. Sehingga mereka tetap mendapatkan pelayanan yang baik ”, katanya. Hal serupa juga dialami dr. Wahyu, dari RS PTN Univ. Udayana, dr. Gung Wik dari Dinas Kesehatan Bangli, serta Wakil Direktur Pelayanan RS Bali Mandara dr. Sri Karyawati.

Di sisi lain, dokter forensic RSUD Buleleng dr. Clarisa Salim juga mengharapkan jawaban terkait penegasan tata laksana penanganan jenasah Covid-19. Karena di lapangan masih belum tersosialisasi dengan baik tata cara penanganan jenasah Covid-19. Dimana masih ada kerancuan terhadap aturan penanganan jenasah Covid-19 tersebut. “Kami ingin agar semua komponen masyarakat diberikan pencerahan terkait hal itu. Sehingga kita sebagai petugas lapangan tidak ragu lagi melaksanakan tugas untuk menjalankan proses pemulasaraan jenasah pasien Covid-19”, katanya. (Yankes dan Humas Dinas Kesehatan Provinsi Bali)

  • meeting virtual new normal
  • Kabid Yankes
  • Peserta