Dinkes Provinsi Bali Gelar Pertemuan Peningkatan Kapasitas Petugas Kesehatan di Fasilitas Layanan TBC RO
Dalam rangka meningkatkan Kapasitas Petugas Kesehatan di Layanan Kesehatan (Yankes) Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) di Bali, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali menggelar Pertemuan Khusus. Kegiatan ini dibuka langsung Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Selasa, 13 Oktober 2026 di Quest Hotel San Denpasar, Jln Mahendradatta No 93 Padangsambian Denpasar.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom, M.Kes mengungkapkan, Di Provinsi Bali, pada bulan Januari - September 2026 dari kasus yang telah berhasil ditemukan sebanyak 51 kasus merupakan kasus TBC RO, dan sebanyak 44 kasus (86%) sudah memulai pengobatan. Untuk keberhasilan pengobatan TBC RO sudah mencapai target yaitu 96%.
“Tuberkulosis Resistan (Obat TB RO) merupakan salah satu tantangan besar dalam upaya penanggulangan tuberkulosis. Penanganan TB RO membutuhkan pelayanan yang komprehensif, mulai dari diagnosis yang tepat, pemilihan dan pemberian regimen pengobatan sesuai standar, pemantauan respons terapi, pemantauan efek samping obat, hingga dukungan kepada pasien agar dapat menyelesaikan pengobatan,”katanya.
Dr dr I Nyoman Gede Anom mengatakan, Untuk memastikan mutu pelayanan TB RO dikabupaten/kota, audit klinis menjadi salah satu instrumen penting dan di Provinsi Bali sudah dilaksanakan sejak tanggal 28 Juli 2026 s/d 20 Agustus 2026 yang menyasar 10 faskes yang memiliki/merawat pasien TB RO.
“Dari hasil audit klinis TB RO yang telah dilakukan, terdapat beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, aspek diagnosis dan manajemen klinis perlu terus diperkuat. Setiap pasien harus mendapatkan pemeriksaan dan penilaian secara komprehensif, hasil pemeriksaan resistansi, riwayat pengobatan dan durasi memulai pengobatan, serta kondisi penyerta pasien. Kedua, dari aspek pemantauan pengobatan, diperlukan pencatatan yang lebih lengkap terutama terkait respons terhadap pengobatan, pemeriksaan laboratorium, pemantauan efek samping obat, serta tindak lanjut terhadap pasien yang mengalami masalah selama pengobatan,”paparnya.
Poin Ketiga imbuh Dr dr I Nyoman Gede Anom adalah manajemen efek samping obat menjadi salah satu komponen yang sangat penting. Efek samping yang tidak teridentifikasi dan tidak ditangani dengan baik dapat memengaruhi kepatuhan pasien dan pada akhirnya berdampak terhadap keberhasilan pengobatan. Keempat, perlu diperkuat pendekatan yang berpusat pada pasien. Pasien TB RO tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga dukungan psikososial, edukasi, pendampingan, serta komunikasi yang baik antara petugas kesehatan, pasien, keluarga.
“Keberhasilan penanggulangan TB RO bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak kasus yang ditemukan, tetapi juga oleh seberapa baik kualitas pelayanan yang kita berikan kepada setiap pasien. Kita juga perlu terus memperkuat kolaborasi antara Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, laboratorium, tenaga kesehatan, organisasi profesi, komunitas, serta pihak terkait lainnya. Dengan kolaborasi yang baik, kita dapat memastikan bahwa setiap pasien TB RO memperoleh pelayanan yang aman, bermutu, tepat waktu, berkesinambungan, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh peserta untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas ini dengan sungguh-sungguh. Manfaatkan kesempatan ini untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mencari solusi atas berbagai tantangan pelayanan TBC RO di lapangan,”tegasnya.
Dr dr I Nyoman Gede Anom berharap setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga membawa semangat dan komitmen baru untuk meningkatkan kualitas pelayanan TB RO di fasilitas masing-masing.
“Mari kita pastikan bahwa setiap pasien TB RO yang ditemukan mendapatkan diagnosis dan pengobatan secara tepat, mendapatkan pendampingan yang optimal, dan memiliki kesempatan yang sama untuk sembuh serta kembali menjalani kehidupan secara produktif. Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya pertemuan ini. Semoga pertemuan ini dapat memberikan manfaat yang nyata dan semakin memperkuat kualitas pelayanan TB RO di Provinsi Bali. Mari kita tingkatkan kompetensi, perkuat kolaborasi, dan berikan pelayanan TB RO yang berkualitas demi terwujudnya masyarakat Bali yang sehat dan bebas Tuberkulosis,”katanya. ***Tim Humas Dinas Kesehatan Provinsi Bali