WASPADA PENYEBARAN PENYAKIT VIRUS NIPAH
WASPADA PENYEBARAN PENYAKIT VIRUS NIPAH
Akhir – akhir ini kita sering mendengar ajakan yang mengajak kita untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Virus Nipah. Sebenarnya apa ya Virus Nipah itu? Yukk kita cari tau…
Virus Nipah adalah infeksi virus berbahaya yang bisa menyebabkan radang otak. Penularan virus Nipah terjadi dari hewan ke manusia. Sampai saat ini belum diketahui pengobatan yang efektif untuk infeksi virus ini. Oleh karena itu, kita perlu waspada terhadap penyebab dan gejala yang bisa ditimbulkannya.
Virus Nipah masuk dalam genus Henipavirus, sekelompok dengan virus Langya dan virus Hendra, yang juga menyerang hewan dan bisa menular ke manusia. Hewan yang menjadi pembawa pertama virus ini adalah kelelawar buah yang termasuk dalam famili Pteropodidae.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada sebuah peternakan babi. Pada saat itu, hewan-hewan tersebut menunjukkan gejala demam, kesulitan bernapas, dan kejang. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menularkannya ke babi.
Kelelawar adalah reservoir alami virus Nipah. Ini berarti virus tersebut tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar, tetapi dapat menyebar dari mereka ke hewan lain, seperti babi.
Penebangan hutan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat mereka, sehingga mereka pindah mendekati pemukiman manusia dan peternakan. Inilah yang memungkinkan virus Nipah berpindah dari kelelawar ke babi, dan dari babi ke manusia.
Cara Penularan Virus Nipah
Virus Nipah termasuk dalam kelompok Paramyxovirus yang merupakan virus RNA. Kelompok virus ini juga dapat menyebabkan penyakit lain, seperti pneumonia, gondongan, dan campak. Namun, virus Nipah memiliki karakteristik khusus yang membuatnya menjadi ancaman serius.
Penularan virus Nipah dapat terjadi ketika manusia bersentuhan langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, darah, dan urine. Selain itu, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa seseorang bisa terinfeksi Virus Nipah melalui konsumsi daging hewan yang terinfeksi, terutama jika daging tersebut dimasak kurang matang.
Selain penularan dari hewan ke manusia, Virus Nipah juga diketahui dapat menular dari manusia ke manusia. Ini terjadi melalui kontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, terutama ketika pasien berada dalam kondisi yang menghasilkan banyak sekali cairan tubuh, seperti air liur.
Gejala Infeksi Virus Nipah
Setelah terinfeksi, virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4-14 hari sebelum gejala muncul. Gejala infeksi ini dapat bervariasi dari ringan hingga berat, bahkan mengancam jiwa. Beberapa gejala yang mungkin terjadi termasuk:
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Muntah
- Kesulitan menelan
- Peradangan otak (ensefalitis)
- Kriteria klinis, apabila terdapat salah satu gejala berikut:
- Demam akut (≥380C)/riwayat demam dan gangguan disfungsi otak akut (penurunan kesadaran/kejang/defisit neurologi lain);
- Demam akut (≥380C)/riwayat demam dan muntah;
- Demam akut (≥380C)/riwayat demam dan gejala pernapasan (seperti batuk, pilek, sesak napas).
- Memiliki salah satu kriteria epidemiologi pada 14 hari terakhir:
- Pernah berada di wilayah KLB atau yang melaporkan kasus konfirmasi atau probable pada 14 hari terakhir*;
- Kontak dengan kasus terkonfirmasi atau probable;
- Diketahui adanya faktor risiko transmisi virus Nipah dari hewan ke lingkungan (seperti meminum nira/aren mentah, berburu kelelawar/memanjat pohon dimana kelelawar sering bertengger, keberadaan pasar hewan liar, kontak dengan hewan/sekresi hewan yang terkonfirmasi, atau memiliki risiko transmisi virus Nipah berdasarkan hasil penilaian risiko epidemiologi setempat).
- Seseorang yang memiliki kriteria suspek ATAU kontak erat DAN hasil pemeriksaan serologi menunjukkan hasil positif;
- Seseorang yang memenuhi kriteria suspek yang meninggal dengan kriteria:
- Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium
- Hasil laboratorium belum keluar
- Adanya RNA Nipah Virus melalui deteksi molekuler seperti pemeriksaan konvensional PCR atau RT-PCR pada usap pernafasan, urin, atau cairan serebrospinal.
- Kultur positif Nipah Virus dari usap pernapasan, urin dan cairan serebrospinal. Sampai dengan pedoman ini disusun, belum tersedia fasilitas BSL-4 untuk pemeriksaan kultur di Indonesia.
- Dirawat pada ruang perawatan bersama.
- Sentuhan fisik langsung -> Kontak dengan jenazah, darah atau cairan tubuh (air liur, urin, muntahan, dll) yang terkontaminasi, dan pakaian/kain.
- Orang yang memberikan perawatan tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai.
- Berada dalam satu ruangan atau kendaraan dalam radius 1 meter dalam waktu 15 menit.
- Dalam rangka surveilans terpadu, perlu dipertimbangkan riwayat kontak dengan hewan terkonfirmasi virus Nipah termasuk terpajan cairan tubuh hewan (misalnya memegang, menyembelih, memotong).
- Hindari kontak langsung dengan hewan yang berisiko. Kelelawar dan hewan ternak seperti babi adalah sumber penularan utama. Hindari kontak langsung dengan hewan-hewan ini.
- Pastikan mencuci sayur dan buah sebelum mengkonsumsinya. Hindari makanan yang terkontaminasi oleh hewan.
- Ketika membersihkan kotoran atau urine hewan yang berisiko tertular, gunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, sepatu boots, dan pelindung wajah.
- Selalu cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum dan sesudah berinteraksi dengan hewan atau orang yang sakit, terutama yang memiliki gejala infeksi Nipah.
- Pastikan daging hewan dimasak dengan baik dan hindari makan daging yang masih mentah.