Pada Hari Kanker Sedunia 2026, Kadiskes Provinsi Bali Dr dr I Nyoman Gede Anom Ajak Krama Bali Deteksi Dini Kanker
Pada Rabu 4 Pebruari 2026 diperingati sebagai Hari Kanker Sedunia. 2026 atau World Cancer Day 2026 (WCD 2026) dengan tema menurut UICC dan WHO adalah “United by Unique,” dengan fokus pada people-centered care, acknowledging individual cancer journeys, and promoting action for equitable, effective treatment and prevention globally. Untuk Indonesia, mengangkat Tema: “Indonesia Satu Melawan Kanker”.
Dalam rangka memperingati hari kanker Sedunia ini, Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes)Provinsi Bali Dr dr I Nyoman Gede Anom, M.Kes menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Bali melakukan beberapa kegiatan mengikuti situasi dan masalah yang ditemukan terkait kanker diantaranya adalah memantau terbatas pada 5 kanker dengan angka kejadian tertinggi (Kanker Paru, Kanker Payudara, Kanker Leher Rahim, Kanker Usus dan Kanker Hati).
Dr dr I Nyoman Gede Anom juga menambahkan, saat ini pasien Kanker yang ditemukan sebagian besar dalam stadium lanjut, sehingga memiliki umur harapan hidup yang lebih rendah.
“Kegiatan skrining kanker untuk penemuan dini dilaksanakan 1 (satu) tahun sekali oleh pemerintah bersamaan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kemudian skrining kanker melalui CKG pada kelompok risiko tinggi tahun 2025 dilaksanakan hanya oleh puskesmas yang tersebar merata di 9 Kabupaten Kota. Dan Saya selaku Kepala Dinas Kesehatan mengajak semua Krama Bali untuk melakukan Deteksi dini Kanker. Sebab semakin awal diketahui, maka semakin cepat bisa ditangani dan peluang sembuhnya lebih besar,”katanya.
Di sisi lain Dr dr I Nyoman Gede Anom juga menjelaskan beberapa faktor resiko yang menyebabkan beberapa kanker.
“Untuk Kanker Paru-paru faktor resiko yang menyebabkan adalah merokok, paparan asbestos, perokok pasif, polusi udara, konsumsi daging merah berlebih, terlalu sering mengkonsumsi alkohol serta adanya riwayat penyakit paru-paru,”paparnya.
Faktor resiko Kanker Payudara menurut Dr dr I Nyoman Gede Anom adalah akibat dari obesitas dan pola makan tidak sehat, usia tua, adanya riwayat penyakit kanker atau radiasi sebelumnya, tidak pernah atau terlambat hamil, terapi hormon, Menstruasi terlalu dini dan menopause terambat, tidak atau jarang olah raga, riwayat keluarga dan ginetik.
“Faktor resiko Kanker serviks adalah adanya infeksi HPV, melakukan seksual di usia dini, bergonta ganti pasangan seks, merokok, kebersihan organ tubuh buruk, adanya riwayat kanker serviks keluarga, daya tahan tubuh rendah dan tidak melakuka skrining atau pop smear,”jelasnya.
Sementara itu, faktor resiko kanker Kolektral menurut Dr dr I Nyoman Gede Anom disebabkan oleh obesitas dan pola makan tidak sehat, merokok dan menkonsumsi alkohol berlebihan, sering sembelit, usia tua di atas 50 tahun, adanya riwayat polip usus, adanya riwayat keluarga dan ginetik, penggunaan obat anti inflamasi, diabetes dan penyakit radang usus serta kurangnya aktivitas fisik.
“Pada faktor resiko kanker hati disebabkan oleh hepatitis B dan Hepatitis C, obesitas dan diabetes, adanya paparan aflatoksin, merokok, sirosis hati, mengkonsumsi alkohol berlebih, pelemakan hati dan adanya riwayat keluarga kanker hati,” katanya.
Lebih lanjut Dr dr I Nyoman Gede Anom menjelaskan, pemahaman masyarakat tentang penyakit kanker seperti faktor risiko serta yang lainnya harus terus ditingkatkan.***PIC Kanker Dinas kesehatan dan Tim Humas Dinas Kesehatan Provinsi Bali.
