Kadiskes Dr dr I Nyoman Gede Anom, Bali Siap Mengejar Target 95-95-95 dan Eliminasi AIDS Tahun 2030

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali selaku Wakil Ketua II KPA Provinsi Bali, Dr. dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes menegaskan saat ini Bali siap mengejar Target 95-95-95 dan Eliminasi AIDS Tahun 2030. Hal ini disampaikan ketika menyampaikan Sambutan Wakil Gubernur Bali selaku Ketua KPA Provinsi Bali di Aula utama UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Masyarakat, Jl. Gumitir No 135 Biaung Kesiman Kertalangu Denpasar, Selasa 2 Juni 2026. 

Target 95-95-95 merupakan strategi global dari UNAIDS untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030. Target ini diadaptasi oleh Kementerian Kesehatan RI dan terdiri dari tiga pilar:95% pertama: Orang Dengan HIV (ODHIV) mengetahui status HIV mereka. 95% kedua: ODHIV yang terdiagnosis mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV). 95% ketiga: ODHIV dalam terapi ARV mengalami penekanan jumlah virus (viral load tersupresi), sehingga tidak menular.

Pertemuan tersebut menghadirkan dua narasumber berpengalaman di bidang kesehatan reproduksi dan layanan HIV/AIDS, yakni dokter sekaligus aktivis kesehatan reproduksi Oka Negara serta Puji Astuti dari Klinik VCT Merpati RSUD Wangaya Denpasar.

Dr.dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes mengungkapkan, target tersebut meliputi tidak adanya kasus baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS, serta tidak ada diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV). “Baru empat bula, di lapangan Kita sudah menemukan 678 kasus. Ini seperti fenomena gunung es karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi,” katanya.

Sampai saat ini, papar Dr.dr. I Nyoman Gede Anom, Bali masih berada dalam kategori epidemi HIV terkonsentrasi pada populasi kunci. Namun apabila upaya pencegahan dan penanganan tidak diperkuat, maka kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi epidemi yang lebih luas di masyarakat.

“HIV bukan hanya penyakit menular. Dampaknya juga menyentuh aspek sosial, budaya, ekonomi, pendidikan hingga keamanan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr.dr I Nyoman Gede Anom menekankan pentingnya layanan konseling dan tes HIV yang profesional, ramah, serta bebas stigma. Stigma terhadap ODHIV masih menjadi salah satu hambatan utama dalam menemukan kasus dan mendorong masyarakat melakukan tes HIV secara sukarela. Bisa dikatakan stigma membuat penemuan kasus menjadi sulit. Padahal ODHIV yang viral load-nya tersupresi tidak menularkan virus dan dapat menjalani kehidupan normal seperti penderita hipertensi maupun diabetes,” ujarnya.

Dr. dr I Nyoman Gede Anom berharap konselor dari wilayah dengan jumlah kasus tinggi seperti Denpasar, Badung, dan Buleleng dapat berbagi pengalaman serta strategi penemuan kasus dan edukasi kepada daerah lainnya di Bali.

Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan yang juga Kepala Sekretariat KPA Bali, A.A. Ngr. Patria Nugraha mengungkapkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, sejak Januari hingga April 2026 telah ditemukan sebanyak 678 kasus baru HIV di Bali. Dari jumlah tersebut, Kota Denpasar menjadi daerah dengan kasus tertinggi, disusul Kabupaten Badung dan Kabupaten Buleleng. Rincian kasus HIV baru di Bali hingga April 2026 adalah sebagai berikut: Kota Denpasar: 274 kasus (40 persen) Kabupaten Badung: 157 kasus (23 persen), Kabupaten Buleleng: 97 kasus (14 persen)

“Sebelum tahun 2000 epidemi HIV di Bali bergerak lambat. Sejak 2003 hingga sekarang terjadi peningkatan tajam melalui hubungan seksual, yang terkonsentrasi pada kelompok populasi kunci,” ujar Patria Nugraha.

Menurutnya, penyebaran kasus HIV kini telah ditemukan di seluruh kabupaten dan kota di Bali sehingga diperlukan penguatan layanan konseling, deteksi dini, dan edukasi masyarakat.

Patria Nugraha menjelaskan, Pertemuan Koordinasi Konselor HIV dan AIDS Tahun 2026 memiliki empat agenda utama, yakni penyegaran materi dan peningkatan kapasitas konselor, memperkuat jejaring serta sistem rujukan antar layanan, mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi di lapangan serta berbagi pengalaman dan praktik terbaik untuk meningkatkan kualitas layanan VCT maupun PITC. ***Humas Dinas Kesehatan Provinsi Bali