Artikel

Sabtu, 01 Oktober 2016

01 Oktober 2016
BATASI KONSUMSI GULA, GARAM, LEMAK 
UNTUK MENGHINDARI PENYAKIT TIDAK MENULAR
Perubahan pola makan menjurus ke sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang, karena mengandung kalori, lemak dan garam tinggi, tetapi rendah serat pangan (dietary fiber). Hal ini membawa konsekuensi terhadap perubahan status gizi menuju gizi lebih (kelebihan berat badan tingkat ringan atau Berat Badan Lebih, yaitu IMT ≥ 25-27 Kg/m2) dan Obesitas (Kelebihan berat badan tingkat berat, yaitu IMT > 27 Kg/m2) yang memicu berkembangnya penyakt tidak menular (Selengkapnya)

27 Juli 2016
AIDS
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkatHIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. (Selengkapnya)

05 Pebruari 2016
BULAN VITAMIN A
Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan . Salah satu dampak kurang vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan –4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. (Selengkapnya)

03 Pebruari 2016
Peringatan World Cancer Day 2016      
“Kita Bisa. Aku Bisa” 
Jumlah penderita kanker di seluruh dunia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari GLOBOCAN tahun 2012, diperkirakan terdapat 14,1 juta kanker baru yang muncul. Pada tahun yang sama terdapat 8,2 juta kematian karena Kanker. Angka penderita ini diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya dan diperkirakan mencapai 23,6 juta kasus baru per tahun pada 2030. Salah satu upaya yang penting dilakukan dalam mengatasi permasalahan kanker di Indonesia adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Sebanyak 43% dari seluruh kasus kanker dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat. Sedangkan 30% dari kasus dapat disembuhkan bila ditemukan dan diobati dalam keadaan dini . (Selengkapnya)

10 November 2015
MARI  KITA SUKSESKAN PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) POLIO TAHUN 2016 MENUJU ERADIKASI POLIO DUNIA

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf sehingga penderita menderita kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak umur 0-3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di tungkai dan lengan. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit polio telah dilakukan melalui gerakan imunisasi polio dan ditindaklanjuti dengan kegiatan surveilans epidemiologi secara aktif terhadap kasus-kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) kelompok umur <15 tahun dalam kurun waktu tertentu guna mencari kemungkinan adanya virus polio liar yang berkembang di masyarakat. AFP merupakan kondisi abnormal ketika seseorang mengalami penurunan kekuatan otot  tanpa penyebab yang jelas dan akhirnya dapat mengakibatkan kelumpuhan. (Selengkapnya)

01 Oktober 2015
UPAYA MENINGKATKAN KONSUMSI GARAM BERYODIUM DI PROVINSI BALI MELALUI KEBIJAKAN BERWAWASAN KESEHATAN : SURAT EDARAN GUBERNUR BALI NOMOR     : 440/2541/KESMAS.DISKES, TANGGAL 16 FEBRUARI 2015 TENTANG  PENINGKATAN KONSUMSI GARAM BERYODIUM SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN YODIUM (GAKY)

Kebijakan ini dibuat sebagai upaya meningkatkan konsumsi garam beryodium dalam penanggulangan gangguan akibat kekurangan yodium. Kekurangan yodiummenimbulkan dampak yang serius  seperti abortus, lahir mati, cacat bawaan pada ibu hamil, kretin, gondok, gangguan pertumbuhan pada anak, serta kerusakan otak dan retardasi mental yang berlanjut pada penurunan Intelligent Quotient (IQ). Semua gangguan ini dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya produktivitas kerja pada orang dewasa serta timbulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat  yang secara keseluruhan akan dapat menghambat pembangunan. (Selengkapnya)

30 September 2015
UPAYA MENINGKATKAN PERILAKU MENCUCI TANGAN PADA ANAK SEKOLAH MELALUI KEBIJAKAN BERWAWASAN KESEHATAN : SURAT EDARAN GUBERNUR BALI NOMOR: 440/3401/KESMAS.DISKES, TANGGAL 24 MARET 2015, TENTANG  PENYEDIAAN SARANA CUCI TANGAN PAKAI SABUN  (CTPS) DI SEKOLAH

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan perilaku sehat yang telah terbukti secara ilmiah dapat mencegah penyebaran penyakit menular seperti diare, kecacingan, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), flu burung, penularan influenza, dan penyakit menular lainnya. Banyak pihak yang telah memperkenalkan perilaku ini sebagai intervensi kesehatan yang sangat mudah,sederhana dan dapat dilakukan oleh mayoritas masyarakat Indonesia termasuk anak usia sekolah.  

Sekolah merupakan sarana penting yang membutuhkan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan. Anak usia sekolah merupakan kelompok yang sangat peka untuk menerima perubahan termasuk pendidikan kesehatan. Siswa/ pelajar di masa sekarang adalah penerus dan asset suatu bangsa, maka pendidikan kesehatan perlu diupayakan sejak usia dini pada golongan usia ini. (Selengkapnya)

29 September 2015
MENINGKATKAN PENCAPAIAN ASI EKSKLUSIF DI PROVINSI BALI MELALUI KEBIJAKAN BERWAWASAN KESEHATAN : SURAT EDARAN GUBERNUR BALI  NOMOR  : 440/ 3403/KESMAS.DISKES, TANGGAL 24 MARET 2015 TENTANG UPAYA PENINGKATAN ASI EKSKLUSIF

Berdasarkan Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu  Ibu (ASI) Eksklusif,   Peraturan Bersama Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Kesehatan, Nomor: 48/MEN.PP/XII/2008, Nomor: PER.27/MEN/XII/2008 dan Nomor: 177/MENKES/PB/XII/2008 tentang Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja serta  mempertimbangkan hasil  Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013  dimana disebutkan bahwa prosentase pemberian ASI saja (ASI eksklusif) pada bayi sampai usia 6 bulan sebesar 30,2% sedangkan target nasional sebesar 75%. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian ASI eksklusif belum mencapai hasil yang diharapkan.

Beberapa permasalahan yang ditemui dalam pemberian ASI pada ibu bekerja adalah ibu bekerja tidak mempunyai waktu cukup untuk menyusui anaknya, masih kurangnya pengetahuan ibu bekerja mengenai manajemen laktasi serta tidak tersedianya ruang ASI yang diperlukan di tempat kerja untuk memerah ASI. (Selengkapnya)

07 April 2015
MENYAMBUT HARI KESEHATAN SEDUNIA 2015  "PILIH DAN KONSUMSI PANGAN YANG AMAN DAN SEHAT"

Higiene sanitasi pangan merupakan unsur penting dalam mewujudkan keamanan pangan, karena pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar dan berpengaruh terhadap keberadaan dan ketahanan hidupnya, baik dipandang dari segi kuantitas dan kualitasnya. Tersedianya pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi. Untuk mencapai hal tersebut perlu diupayakan terwujudnya sistem pengelolaan pangan yang higienis oleh Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) dari mulai pemilihan bahan sampai penyajian pangan.

Secara global, pangan tidak aman yang disebabkan oleh mikrobiologi dan pencemaran kimia diperkirakan menyebabkan kematian 2 juta orang setiap tahunnya. Globalisasi dan perubahan gaya hidup telah mengakibatkan perubahan dalam hal seluruh proses rantai pengelolaan pangan dan konsumsi pangan.(Selengkapnya)

  • MENINGKATKAN KESEHATAN IBU DAN ANAK MELALUI GERAKAN POSYANDU

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang menjadi milik masyarakat dan menyatu dalam kehidupan dan budaya masyarakat. Posyandu berfungsi sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat serta mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan dengan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA).

Jumlah Posyandu di Indonesia sebanyak 266.827 yang tersebar di seluruh Indonesia dan terdapat sekitar 3 sampai 4 orang kader per Posyandu dan berarti ada lebih dari 1 juta kader Posyandu. Berdasarkan data Riskesdas,hampir 78% penimbangan balita dilaksanakan di Posyandu.(Selengkapnya)


  • BAGAIMANA MENERAPKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI TATANAN TEMPAT IBADAH (PURA)

Pura, di samping sebagai tempat untuk beribadah juga merupakan tempat berkumpul banyak orang sehingga pura juga merupakan tempat yang efektif dan efisien untuk memberikan berbagai informasi penting seperti pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu kita semua sudah sepatutnya memelihara dan mempertahankan kesucian pura dengan menerapkan perilaku baik, bersih, rapi dan sopan di pura.

            Penularan penyakit dapat terjadi di tempat-tempat umum karena kurang tersedia air bersih dan jamban, kurang baiknya pengelolaan sampah dan air limbah, kepadatan vector berupa lalat dan nyamuk, kurangnya ventilasi dan pencahayaan, kebisingan dan lain-lain. Tempat-tempat umum yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai penyakit, yang selanjutnya dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.(Selengkapnya)